Social commerce meningkat, pembelian langsung di Instagram dan TikTok semakin umum

Social commerce terus berkembang pesat pada 2026 dan menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi digital. Pengguna kini tidak lagi hanya menemukan produk di media sosial, tetapi langsung membelinya tanpa keluar dari platform. Fenomena ini terlihat jelas di Instagram dan TikTok, yang memperkuat fitur belanja terintegrasi. Di saat yang sama, format live shopping semakin populer, terutama di pasar Asia.

Pembelian langsung di platform menjadi standar baru

Media sosial berubah dari kanal distribusi konten menjadi kanal transaksi. Pengguna dapat menemukan produk, melihat ulasan, dan menyelesaikan pembelian dalam satu alur yang sama.

Fitur toko, tautan produk, dan integrasi pembayaran membuat proses ini semakin sederhana. Bagi brand, hal ini mengurangi friksi dalam perjalanan pembelian. Bagi pengguna, pengalaman menjadi lebih cepat dan praktis.

Perubahan ini mencerminkan evolusi perilaku. Media sosial tidak lagi hanya mempengaruhi keputusan, tetapi menjadi tempat keputusan itu dibuat.

Live shopping mendorong konversi secara real time

Salah satu format yang paling berkembang adalah live shopping. Konsep ini menggabungkan siaran langsung dengan penjualan produk secara langsung.

Selama sesi live, penjual dapat mempresentasikan produk, menjawab pertanyaan, dan mendorong pembelian secara instan. Interaksi langsung meningkatkan kepercayaan dan mempercepat keputusan.

Model ini telah lebih dulu berkembang di Asia, khususnya di China dan Asia Tenggara, sebelum mulai meluas ke pasar lain. Tingkat konversi yang tinggi menjadikan format ini semakin menarik bagi brand.

Asia menjadi pendorong utama pertumbuhan

Pasar Asia memainkan peran penting dalam perkembangan social commerce. Negara seperti China, Indonesia, dan Thailand menjadi pionir dalam adopsi model ini.

Kebiasaan konsumen yang sudah terbiasa dengan belanja melalui aplikasi dan tingginya penggunaan live streaming mempercepat pertumbuhan. Platform seperti TikTok memperluas fitur live commerce untuk menangkap tren ini.

Pertumbuhan di Asia kemudian mempengaruhi strategi global, dengan banyak brand mencoba mereplikasi model yang sama di pasar Barat.

Brand menyesuaikan strategi distribusi

Dengan meningkatnya social commerce, brand mulai mengubah pendekatan mereka. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk awareness, tetapi menjadi kanal penjualan langsung.

Strategi konten juga berubah. Konten harus tidak hanya menarik, tetapi juga mendorong aksi. Format video pendek, review produk, dan live interaction menjadi prioritas.

Hal ini mendorong integrasi antara marketing dan penjualan, yang sebelumnya dipisahkan.

Perubahan struktur e-commerce

Social commerce tidak menggantikan e-commerce tradisional, tetapi melengkapinya. Platform seperti marketplace dan situs brand tetap relevan, namun peran media sosial semakin kuat dalam fase keputusan.

Pada 2026, pembelian langsung melalui media sosial bukan lagi eksperimen. Ini menjadi bagian dari ekosistem distribusi digital yang lebih luas.

Tren ini menunjukkan satu arah yang jelas. Proses membeli semakin cepat, terintegrasi, dan dipengaruhi oleh interaksi sosial secara real time.