China merilis indikator ekonomi yang menunjukkan gambaran campuran pada kuartal kedua 2025: pertumbuhan ekonomi melampaui perkiraan, ditopang ekspor yang bergeser ke pasar non-AS, tetapi lemahnya permintaan domestik terlihat dari konsumsi yang tak setangguh sisi produksi. Data resmi Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dipublikasikan 15 Juli 2025 menempatkan PDB kuartal II tumbuh 5,2% (yoy), sedikit di atas konsensus Reuters/Bloomberg sekitar 5,1% namun melambat dari 5,4% pada kuartal I.
Rangkaian angka ini muncul ketika pelaku pasar global menilai ulang risiko perdagangan dan arah kebijakan moneter utama. Di Asia, investor juga membandingkan dinamika China dengan keputusan bank sentral lain, termasuk perkembangan suku bunga di Indonesia yang ikut memengaruhi arus modal kawasan, seperti dibahas dalam laporan kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
China merilis indikator ekonomi kuartal kedua 2025 dengan PDB 5,2% ditopang ekspor
Menurut NBS, pertumbuhan ekonomi China pada April–Juni 2025 mencapai 5,2% (yoy) dan 1,1% secara kuartalan. Untuk paruh pertama 2025, PDB tumbuh 5,3% dengan nilai output sekitar RMB 66,05 triliun, sebuah capaian yang oleh pejabat NBS disebut sebagai hasil yang “sulit diraih” di tengah tekanan eksternal.
Penopang penting datang dari perdagangan. Meski ekspor ke Amerika Serikat dilaporkan tertekan—bahkan ada periode ketika pengiriman ke AS jatuh tajam—kinerja keseluruhan tetap bertahan karena diversifikasi tujuan. Data kepabeanan menunjukkan ekspor menguat ke ASEAN, Uni Eropa, dan Afrika, membantu menutup kekurangan dari pasar AS.
Di tingkat korporasi, pola ini terasa di pelabuhan dan pusat logistik: eksportir elektronik dan barang industri mempercepat pengapalan ke Asia Tenggara dan Afrika, sementara pembeli global melakukan penumpukan persediaan menjelang tenggat kebijakan tarif. Bagi Beijing, bantalan ekspor memberi waktu untuk menakar respons jika ketegangan dagang memanas lagi setelah jeda tarif yang berakhir pertengahan Agustus.

Produksi industri menguat, tetapi penjualan ritel menandai rapuhnya permintaan domestik
Dari sisi penawaran, produksi industri menjadi sorotan. Pada Juni 2025, output industri naik 6,8% (yoy), di atas ekspektasi pasar sekitar 5,6%, dengan output manufaktur dilaporkan naik 7,4% dan menyentuh level tertinggi tiga bulan. Untuk semester I, nilai tambah industri tumbuh 6,4%, sementara jasa naik 5,5%.
Namun, konsumsi rumah tangga tidak mengikuti kecepatan pabrik. Penjualan ritel pada Juni hanya tumbuh 4,8% (yoy), lebih lemah dari perkiraan analis. NBS menilai ekonomi masih bertumbuh stabil, tetapi mengingatkan ketidakpastian eksternal tinggi dan permintaan domestik “belum memadai”.
Detail belanja memperjelas ceritanya: beberapa kategori seperti minuman, rokok, alkohol, dan kosmetik dilaporkan melemah, sementara layanan katering tumbuh lebih lambat. Di sisi lain, pembelian peralatan rumah tangga, perangkat komunikasi, dan furnitur tertopang subsidi pemerintah—sebuah sinyal bahwa dorongan kebijakan masih diperlukan untuk menjaga selera belanja.
Tekanan inflasi yang rendah dan risiko deflasi disebut terkait kelebihan kapasitas industri serta kepercayaan pasar yang belum pulih penuh, diperparah oleh kontraksi berkepanjangan di properti. Di jalan-jalan pusat belanja kota besar, diskon besar dan program tukar tambah menjadi pemandangan lazim, menegaskan persaingan harga yang ketat. Pesan akhirnya jelas: kinerja produksi solid, tetapi mesin konsumsi belum benar-benar menyala.
Investasi dan arah kebijakan PBOC di tengah risiko tarif serta dinamika ekspor impor
Di ranah investasi, data semester I menunjukkan fixed-asset investment (FAI) naik 2,8% menjadi sekitar RMB 24,87 triliun. Tanpa real estat, kenaikannya lebih kuat, dengan manufaktur naik 7,5% dan infrastruktur 4,6%, sementara investasi properti turun 11,2%. Kontras ini memperlihatkan upaya mengalihkan mesin pertumbuhan dari sektor perumahan ke industri dan infrastruktur.
Kebijakan moneter juga bergerak hati-hati. Bank sentral China, PBOC, dilaporkan belum memilih pelonggaran besar-besaran, melainkan menekankan instrumen pinjaman struktural ke sektor prioritas agar likuiditas tersalurkan, bukan mengendap di sistem keuangan. Di sisi fiskal, subsidi konsumsi disebut bersumber dari penerbitan obligasi khusus jangka panjang, sementara media pemerintah menyebut masih ada ruang penerbitan obligasi lebih dari 7 triliun yuan hingga akhir tahun untuk menopang pertumbuhan.
Untuk pelaku digital dan manufaktur berteknologi, komposisi pertumbuhan memberi dua sinyal sekaligus. Pertama, investasi ke layanan informasi dan manufaktur berteknologi tinggi tetap menjadi titik terang—mendukung ekosistem perangkat, perangkat lunak, dan otomasi. Kedua, ketidakpastian ekspor impor terkait kebijakan tarif AS membuat perusahaan lebih berhitung soal rantai pasok dan lokasi pasar, terutama ketika ekspor ke AS sempat turun dan pengapalan dialihkan ke ASEAN serta Afrika.
Dinamika global ini ikut dipengaruhi kebijakan suku bunga negara maju. Pergerakan yield dan dolar AS sering memengaruhi selera risiko investor, sehingga pembacaan pasar terhadap langkah Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang tak bisa diabaikan, sebagaimana dipantau dalam pembaruan arah suku bunga Federal Reserve. Bagi China, tantangannya kini menjaga keseimbangan: mempertahankan momentum produksi dan ekspor, sambil mencari cara yang lebih efektif untuk menghidupkan kembali permintaan domestik tanpa memicu risiko baru di sektor keuangan.









